Bahasa birokrat itu… Uuuuuhhh!!!!!???
Januari 23, 2009
buneyasmin
Kaitkata: wartawan kok lucu
Aku makin gerah dengan media massa sekarang. Bukan karena apa-apa. Mungkin bagi sebagian orang ini hanya “masalah kecil”, namun bagiku ini sangat mendasar!!
Bahasa-bahasa gaya birokrat itu gara-garanya. Pilihan kata yang kaku dan tentu saja aneh untuk konsumsi berita bagi masyarakat pembaca, pendengar maupun penonton. Payahnya lagi, virus bahasa birokrat ini menyerang tak hanya media lokal, tapi juga media nasional yang bergengsi!!
Menjengkelkan sekali membaca kalimat yang dimulai dengan kata-kata seperti “Mengingat….”, “Dalam rangka….” atau “Seperti kita ketahui..” (sing mengetahui gek sapa?????) dan teman-temannya.
Atau kalimat yang di dalamnya mengandung unsur “….menyusul”, “………pasca-” yang pada biasanya juga sangat salah dalam penggunaannya. Misalnya “pasca”, mestinya disambung dengan kata benda. Tapi sering dipaksa bergandengan tangan dengan kata kerja!! Misalnya: “Gubernur hadir di Solo menyusul bencana banjir pasca-dilakukannya revitalisasi……” (hadoh hadoh ruwetnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Kasihan dikit pembaca duoooong mas wartawan dan mbak wartawati!!)
Lalu dalam berita kriminal, saat ini sering muncul kata “curat”, “curas” yang notabene bahasa dari dunia Mahoney dkk. Ya memang dalam dunia polisi, ada pembedaan antara pencurian biasa dan pencurian yang disertai dengan kekerasan. Tapi awam menyebut itu semua sebagai pencurian dan perampokan.
(Sabar buneeee sabar buneeee)
Ini belum menyangkut akurasi, kalimat tidak efektif, dan permasalahan “kecil namun mengganggu” lainnya, yang menunjukkan sang wartawan atau editornya kurang belajar, kurang gaul sehingga jadi kurang wawasan. Ujungnya, mereka memberikan informasi yang aneh bin ajaib kepada publik.
Saya pernah membaca berita dari konferensi pers di Solo, yang ditulis sang wartawan, lokasinya di “SMP Cokro.” Ini ajaib, karena di Solo tuh tidak ada SMP Cokro. Ada mungkin SMP Cokro, tapi di Klaten, dekat pemandian Cokro Tulung. Setelah saya usut, ternyata yang dimaksud wartawan itu adalah sekolah swasta bernama SMP Cokroaminoto!!
Trus pernah pula dalam sebuah media disebutkan “Jurusan Etno pada perguruan tinggi X”, yang kutahu itu pasti maksudnya untuk menyebutkan “Etnomusikologi” !! Haiiyyyah…. bedakan dong sebutan dalam obrolan sehari-hari dengan sebutan resmi!!
O, ya saya juga mangkel dengan media umum yang sok pintar dan kebarat-baratan, dengan menyebutkan kata-kata “tingkat lanjut” seperti “dekonstruksi, paradigma, diskursus” dalam kalimat biasa pada naskah berita biasa. Tentu saja ini tidak pada tempatnya, Bung!! Saya pun salut dengan sebuah harian yang mempopulerkan kata “pemakzulan” sebagai ganti “impeachment.”
Akhirnya saya benar-benar menghargai media yang bersahaja namun tetap elegan, dengan menjauhi sejauh- jauhnya apa yang telah saya “haramkan” di atas. 
Entry Filed under: Uncategorized
Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
G.a.i.a |
Februari 11, 2009 pukul 8:25 am
*wakakak* aku pernah merasa gak akan bisa bikin skripsi/ gak akan bisa lulus, karena bahasa ku “gak ilmiah” banget. Lebih kayak bahasa majalah remaja hi3x.. Untung dosennya kasian sama aku, atau dia bosen liat mukaku –terserah deh yg mana — akhirnya bisa lulus juga.Alhamdulillah.
2.
mommyciku |
Mei 16, 2009 pukul 3:37 am
- gaul dg pejabat wartawan kebawa bahasa birokrat
- gaul di fesbuk nulis berita kayak bikin status fesbuk
- eh…ada lagi, nulis berita pake gaya sms
cape dech….
3.
buneyasmin |
Juni 5, 2009 pukul 4:42 am
hhahaaaa betul itu. pelajaran moralnya: kalo mau liat orangnya kayak apa, liat aja temennya