Saya juga punya pengalaman pahit sama dokter…
Juni 5, 2009
buneyasmin
Kaitkata: pasien cerdas
Kasus Prita (semoga keadilan berpihak kepadanya) mengingatkan saya pada kasus yang saya alami. Tahun 2000, 2 bulan setelah menikah, saya dinyatakan hamil. Secara anak pertama gitu loh, kami ekstra hati-hati dan secara rutin kontrol ke seorang dokter SPOG yang konon waktu itu paling top di Solo.
Singkat cerita, tanggal 22 Januari 2001 saya melahirkan anak laki-laki (49cm/29gr) yang kemudian kami beri nama Daffa Naufal Azmi, dengan pertolongan sang dokter top tersebut. Tapi apa mau dikata. Perjuangan mengandung dan melahirkan harus berujung pada kisah pilu, meninggalnya anak saya 7 jam setelah saya lahirkan. Saya sendiri baru tahu anak saya meninggal setelah 3 hari kemudian.
Yeah, the show must go on. Walau hati hancur, sebagai orang beriman saya mencoba ikhlas dan mencoba berpikir realistis. Satu minggu setelah melahirkan, saya kontrol kepada si dokter SPOG. Mosok dia malah bertanya: Gimana setelah melahirkan? KB saja? Saya pun merefresh memorinya: Bagaimana mau KB, Dok? Saya mau hamil lagi, sesegera mungkin, karena anak saya meninggal!
Haha, ajaib.. rupanya dia sudah melupakan saya (mungkin saking banyak pasien). Tanpa berlarut-larut dalam kedongkolan, saya minta advisnya. Dia menyarankan saya periksa TORCH yang mahal. Tapi itu saya lakukan, karena itu adalah advis dokter– kepadanya saya percayakan nasib saya dan calon anak saya.
Hasilnya? saya negatif Tokso, sementara untuk CMV (Cito Megalo Virus) dan Rubella ada angkanya, di kolom IGG. Sementara di IGM nol. Lalu si dokter menyatakan, dengan adanya angka itu, maka berbahaya bagi saya untuk hamil. Lalu saya diberi sebuah resep obat untuk diminum sehari sekali, namanya Valtrex, yang belakangan saya ketahui ini adalah sejenis antbiotik yang sangat keras. Bukan cuma itu, harga satu resep untuk 14 hari lebih tinggi dari gaji yang saya terima satu bulan!
Tapi masih alhamdulillah, resep yang pertama, saya tebus dengan uang klaim asuransi pasca rawat inap. Lalu saya cek lab lagi. Tapi hasilnya masih ada angka-angka di kolom IGG itu, yang nyaris sama! Lalu si dokter kasih resep yang sama. Karena saya minim dana, saya kong kalikong dengan seorang detailer, sehingga Valtrex2 selanjutnya saya peroleh dari dia, bukan dari apotek. Sementara itu saya mencegah diri untuk hamil dulu.
Tapi lagi-lagi hasil tes menunjukkan hasil yang sama. Saya pun mulai curiga kepada Om Dokter ini. Saya coba mencari informasi dari manapun, browsing di internet dll soal Rubella dan CMV ini, sampai akhirnya saya mendapatkan informasi digelarnya sebuah simposium bagi dokter SPOG membahas Seluk Beluk CMV di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta yang digelar sekitar bulan Juni 2001.
Dorongan untuk segera mempunyai anak, membuat suami saya nekat menyelundupkan diri ke dalam acara itu. Hanya dia peserta simposium yang bukan dokter SPOG! Dahsyatnya suamiku…. luv U much..
Di sela-sela acara, suami saya menemui para profesor/dokter senior yang tampil sebagai pembicara, dengan menunjukkan segepok hasil lab saya. Tahu apa kata para Profesor itu? “Ah ha! Ini dia yang suka salah. Angka di IGG itu ada di setiap orang yang tidak perlu ditakutkan. Yang perlu mendapatkan penanganan serius kalau ada angka di IGM!”
Mr Profesor bertambah kaget, ketika tahu saya telah berbulan bulan mengkonsumsi Vartrex! Katanya, “Itu sangat keras lho! Cepat hentikan!”
Well… saya seperti bumi disambar petir, karena ternyata dokter yang saya percayai selama ini, telah salah menangani saya! Ini artinya apa? Mal praktek! Bisa menjadi masalah hukum! Tapi baiknya saya, saya tidak menggugat dokter itu…. Halah, bukan karena saya baik ding, tapi karena saya tidak punya dana untuk membayar biaya hukum… sementara dokter itu pasti punya duit banyak. Nah, bisa ditebak, salah2 saya yang malah masuk penjara seperti Prita!
Namun sebentar kemudian seperti kemarau disiram air hujan. Berarti, saya tak perlu takut hamil, kan? Amarah dan dendam kepada dokter yang salah memberikan diagnosis, berangsur angsur pudar berganti harapan. Saya pun konsentrasi untuk mempunyai anak, dan berganti dokter SPOG untuk memeriksakan diri sebelum hamil.
Demi memastikan apakah saya datang ke dokter yang tepat, saya kasih hasil-hasil lab saya kepada dokter SPOG saya yang baru ini. “Oooohhh… tidak masalah Bu… silakan saja kalau mau hamil…”
Saya pun melupakan dokter SPOG yang lama. Singkat kata lagi, setelah penyerbukan, terjadi pembuahan, dan saya melahirkan anak perempuan yang sehat tepat 23 Mei 2002. 5 Tahun kemudian, 18 Agustus 2007, saya punya anak lagi, perempuan lagi. Alhamdulillah…. semua kehendak-Mu… kepada-Mu aku pasrahkan hidup dan matiku ya Allah..
Entry Filed under: Uncategorized
Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
akmal |
Agustus 11, 2009 pukul 4:21 pm
ya gmn yaaa…. qt yg sbg orng awam hanya turut ap yg d blng dokter. udah seharusnya qt tw lbh bnyak tntang kesahatan qt
2.
buneyasmin |
Februari 17, 2010 pukul 7:48 am
benar sekali, dan untuk mengantisipasi, dalm kasus tertentu kita butuh second opinion dari dokter lain..
3.
mamawulung |
April 28, 2010 pukul 9:45 am
untung sekarang ada internet ya bune. dimana segala informasi bisa didapat. terimakasih buat sharingnya ya. solo nya dimana? sapa tau kapan2 bisa main.
4.
buneyasmin |
April 28, 2010 pukul 1:01 pm
oya. internet sangat membantu asal digunakan dengan bijak. saya di sekitar pajang, kantor di Karangasem. Silakan main…
5.
wahyu |
Agustus 30, 2010 pukul 4:28 am
kita sbgai dokter mestinya mmbntu pasien yg sdg skid/konsl.bukan mmberikan sikap yg sgt pahit…
niat pertama kita sbg dokter adlah :
1.TULUS ikHLAs membantu ssorang
2.beri pelayanan baik
dll
6.
buneyasmin |
Agustus 31, 2010 pukul 4:43 am
Semoga semua dokter bersikap seperti yang Anda sampaikan,sehingga tidak ada kisah sedih soal hubungan antara pasien dan dokternya.