Suatu hari di jendela itu…
Mei 7, 2010
buneyasmin
Jendela samping rumah itu terbuka. Itu bisa kami lihat dari jalan di depan rumah, yang jaraknya sekira 15 meter dari jendela itu. “Asyik,” pekik kakak saya. Saya pun membatin hal yang sama.
Itu sekitar tahun 1981 atau 1982. Saya dan kakak saya, Uci, beringsut menuju jalan tembus kecil di samping rumah, yang biasanya digunakan untuk keluar-masuk “orang luar”, artinya, bukan kalangan keluarga yang tinggal di rumah besar itu. Tak lama sampailah kami di jendela itu, tentunya setelah menyandarkan dengan hati-hati sepeda mini yang kami tumpangi berboncengan dari rumah.
“Mbak Ana? Mbak?” panggil kakakku, seperti hari-hari sebelumnya ketika kami datang ke jendela ini untuk “misi” yang sama. Aku harus berjinjit agar mataku bisa mencapai kusen jendela. Kadang sebentar kemudian, seorang remaja putri seusia kakakku dengan kacamata tebal melongokkan kepalanya. Kadang agak lama, sehingga kami harus menunggu. Kadang bahkan Mbak Ana, remaja itu, tidak muncul sama sekali. Sebagai gantinya, seseorang yang entah siapa akan berteriak tanpa kami lihat sosoknya, yang mengabarkan Mbak Ana sedang tidak ada di rumah. Dan kami pun akan mengambil kesimpulan: mungkin jendela terbuka karena sedang dibersihkan oleh pembantu rumah tangga.
Mbak Ana adalah anak seorang dokter, satu-satunya di desa kami. Walaupun lain SD, namun kakakku dan Mbak Ana kenal baik, karena memang di desa kecil, siapa sih yang tidak saling kenal, sama-sama suka membaca lagi, hobi yang cukup langka dilakukan anak-anak di desa itu.
Menurutku Mbak Ana baik sekali, karena suka meminjamkan buku kepada kakakku. Dan biasanya saya ikut dapat rejeki, karena Mbak Ana juga suka membeli cerita bergambar kesukaanku.
Lalu biasanya kakakku akan menyodorkan buku kepada Mbak Ana, buku yang kami pinjam beberapa hari sebelumnya, dan kemudian terlibat dialog singkat dengan Mbak Ana. “Ada yang baru ni,” kata Mbak Ana kalau memang ada buku baru. Bisa serial Trio Detektif. Atau Lima Sekawan. Atau sekadar cerita bergambar seperti serial Kisah Petualangan Tintin, Lucky Luke dan Donal Bebek. Mbak Ana selalu singkat kalau bicara. Hanya satu-dua patah kata. Aku sendiri belum pernah bicara dengan dia.
Kalau sudah dapat bukunya, kami akan langsung pulang, dan mengembalikan tepat waktu yang sudah disepakati, tentu bila jendela itu terbuka. Pada saat lain dia akan mengatakan, “Wah, belum ada yang baru.” Dan kami pulang dengan sedih, karena tidak ada buku yang bisa dibaca.
Saya masih sangat kecil waktu sering ikut kakak melakukan transaksi “pinjam buku” di jendela kamar Mbak Ana. Mungkin Kelas I atau II SD. Sementara usia kakak tiga tahun di atasku Saya tidak pernah menghitung berapa buku sudah keluar masuk dari jendela itu. Yang jelas banyak sekali. Kami pun sangat kehilangan ketika sekitar tahun 1983, saat Mbak Ana memasuki usia SMP, dia bersekolah di kota, jauh dari desa kami. Transaksi pinjam buku terhenti sejak saat itu. Tak ada lagi sensasi ketika kami melihat jendela di rumah besar itu terbuka, dan tirainya melambai-lambai tertiup angin.
Kami sedih sekali. Sebagai gantinya, pada hari-hari berikutnya kami melihat jendela itu selalu dalam keadaan tertutup. Kadang saat bapak memeriksakan kami yang sakit ke tempat praktek Pak Dokter yang notabene ayah Mbak Ana, kami berharap jendela itu terbuka, dan buku-buku baru siap kami bawa pulang. Tapi semua tinggal kenangan. Kenangan akan sebuah jendela yang selalu melekat di hati, hingga saat ini, ketika bahkan tak ada lagi ruang kosong tempat kami bisa menyelipkan buku, saking banyaknya buku yang kami miliki.
Jendela itu sangat berjasa membangkitkan semangat kami untuk membaca, mengenal dunia luar lewat buku. Berfantasi seandainya kami adalah tokoh Anne, salah satu anggota Lima Sekawan, dan membayangkan menjadi wartawan yang ulet dan tangguh seperti Tintin. Melalui tulisan ini, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Mbak Ana.
Sejak Mbak Ana pergi, kami tetap membaca buku, kebanyakan pinjaman dari tetangga yang lain. Ada beberapa yang kami beli sendiri, namun jarang sekali. Biasanya kalau habis dari rumah nenek atau saudara, kami dapat uang, dan uang itu dikumpulkan untuk membeli buku.
Namun kami tetap bersyukur, karena kedua orangtua kami yang berprofesi guru, selalu mendorong kami untuk selalu membaca. Kalau tidak, tentu bapak tidak akan membawakan majalah Si Kuncung dari sekolah. Walaupun tidak ada lagi Trio Detektif, Lima Sekawan atau Tintin, kami bisa membaca serial Di Rumah nenek Limbak yang ada dalam majalah Si Kuncung. Atau terpaksa mengeja tulisan-tulisan kecil dalam serial horor Alaming Lelembut pada majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat, karena bapak kami adalah pelanggan setianya.
Entry Filed under: Uncategorized
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed