Belajar kepedulian, solidaritas dan perjuangan hidup dari Panji

September 1, 2010 buneyasmin

Saya “berkenalan” dengan Panji Risang Anugerah Putra sekitar empat bulan yang lalu sekitar April 2010, ketika seorang kawan reporter menulis tentang penderitaan seorang bayi yang kala itu berusia 4 bulan. Panji, anak kedua Dimas Rahutomo yang seorang karyawan kecil di sebuah perusahaan percetakan, lahir dengan sejumlah kelainan.

Selain jantungnya bocor di empat titik, ada infeksi pada paru-parunya dan tempurung kepala pun tidak normal. Sehari setelah lahir dengan bantuan bidan, Panji masuk ICU di RS Kasih Ibu Solo. Dia dirawat secara intensif selama 25 hari, kemudian dipindah ke bangsal biasa.

Genap satu bulan dirawat di RS, Panji boleh pulang. Namun keluarga harus selalu menyediakan oksigen murni di rumah untuk si kecil karena Panji tak mampu bernapas secara normal. Panji hampir tak pernah melewatkan seharipun tanpa selang oksigen di hidungnya. Ketika usianya sekitar tiga-empat bulan, kondisi Panji drop, dan dia kembali harus menjalani perawatan intensif yang panjang di rumah sakit tempat dia dirawat dulu.

Kesulitan keuangan karena harus menanggung biaya perawatan puluhan juta rupiah, membuat keluarga Panji pontang-panting mengurus asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin. Syukur Alhamdulillah, akhirnya Pemkot Solo memberikan bantuan berupa asuransi Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) yang menanggung biaya hingga Rp 5 juta. Lumayan, cukup membantu menutup hutang-hutang keluarga Panji kepada RS yang mencapai Rp 35 juta.

Saat itulah kisahnya diangkat di media tempat saya bekerja. Syukur Alhamdulillah pula, rasa peduli dan solidaritas masih ada di benak segelintir orang di negeri ini. Ketika kisahnya diketahui orang banyak, sejumlah pihak spontan menyatakan ingin membantu keluarga Panji. Saya sendiri, melalui status di Facebook, mencoba menarik simpati kontak-kontak saya. Walhasil, banyak teman langsung mengirimkan sejumlah uang ke rekening saya. Dalam waktu 2 hari terkumpul Rp 4 juta, kemudian saya titipkan kepada kawan reporter yang mengawal pemberitaan tentang Panji. Sementara itu Ketua Golkar Solo, H Hardono, yang mengetahui kasus Panji secara khusus datang ke rumah kecil tempat tinggal keluarga Panji, untuk memberikan bantuan. Konon, Wakil Walikota yang juga Ketua PDIP, Rudy Hadyatmo, juga secara khusus membantu. Luar biasa, ketika dua partai berbeda bersatu padu dalam sebuah misi kemanusiaan.

Akhirnya, titik terang pun datang ketika dua RS bersedia mengoperasi kebocoran jantung Panji secara gratis. RS Cipto Mangunkusumo dan RS Jantung Harapan Kita. Akhirnya Panji dibawa ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta, setelah memperoleh kepastian tanggal operasi. Sempat beberapa kali ditunda, akhirnya pertengahan Juni 2010 Panji dioperasi. Ada 4 bayi yang sama kasusnya dengan Panji dioperasi pada hari yang sama. Namun atas kehendak-Nya, hanya Panji yang bertahan hidup setelah dioperasi, walau mengalami tekanan paru-paru yang parah. Saya sempat berkomunikasi dengan ibu Panji, Lirih Juwitasari, yang selalu ada di sisi Panji saat dirawat Jakarta, demi memperoleh kelengkapan berita dan gambaran lebih jelas tentang Panji pascaoperasi.

Saat itulah dia berkeluh kesah, bahwa ternyata RS hanya menanggung biaya operasi. Sementara akomodasi ditanggung pasien. Dia mengatakan, Panji harus selalu disuntik untuk mengurangi tekanan paru-parunya, dengan obat suntik yang harganya Rp 750 ribu sekali suntikan. Dan keluarga harus menyediakan uang cash untuk itu. Ibu Lirih pun mengatakan, tak tahu harus bagaimana karena uangnya sudah hampir habis sama sekali. Saya tak tega mendengarnya. Saya beranikan diri menghubungi Pak Hardono, yang tengah mengikuti acara Golkar di Jakarta. “Tidak semestinya orang tidak mampu bernasib seperti itu. Saya akan bicarakan dengan Menkokesra,” ujar dia waktu itu.

Pagi harinya, saya mendapat kabar dari Ibu Lirih, bahwa akhirnya RS membebaskannya dari semua tagihan atas instruksi dari Menkokesra. Saya pun menghubungi Par Hardono kembali untuk meneruskan ucapan terima kasih dari keluarga Panji. Dua bulan dirawat di RS Jantung Harapan Kita, kondisi Panji terus membaik. Jantungnya normal, tekanan paru-parunya juga stabil, hingga akhirnya dia dinyatakan sehat dan tidak lagi butuh oksigen untuk menopang aktivitas pernapasannya. Panji pun dibawa pulang kembali ke Solo, tepat di awal Ramadan.

Saya ikut melonjak kegirangan ketika ibu Panji menelepon saya, mengabarkan berita gembira tersebut. Hal paling membahagiakan bagi saya sebagai seorang wartawan adalah ketika bisa membantu orang dengan kerja jurnalistik saya.

Sekitar satu pekan setelah Panji diboyong ke Solo, saya mengunjungi keluarga itu. Baru kali itu saya bertemu langsung dengan Panji dan ibu Lirih. Saya bawakan beberapa potong baju baru buat Panji dan kakaknya, Lintang. Sayang, saat itu Panji sedang tidur pulas. Padahal saya ingin sekali menggendongnya. Entah mengapa, saya merasa sayang kepada bayi ini, di samping kagum atas kekuatannya dalam menanggung penderitaan. Melihat Panji, saya jadi ingat anak saya, Daffa Naufal Azmi, yang juga mengalami bocor jantung dan meninggal 7 jam setelah saya lahirkan. Saya pandangi Panji dalam tidurnya. Anaknya ganteng, bersih walau kurus. Di usia 8 bulan, berat badan Panji hanya 4,5 kilogram. Saat itu ibu Lirih bercerita, Panji begitu dibawa di rumah sempat rewel dan sesak napas. Dokter menyatakan itu hanya masalah penyesuaian dengan cuaca, tidak ada yang serius.

Namun Tuhan ternyata berkehendak lain. Jumat (27/8), tepat jam 08.00 saat mengawali kerja, saya ditelepon ibu Lirih. Sambil menangis dia bercerita, Panji baru saja meninggal setelah tiba-tiba mengalami sesak napas hebat, dan sempat dirawat beberapa jam di Ruang ICU RS Kasih Ibu Solo. Saya kaget dan sangat sedih mendengarnya. Air mata saya terus mengucur hingga siang saat istirahat kantor, yang saya gunakan untuk menyambangi rumah duka.

Ibu Lirih menyambut saya dengan mata merahnya. Saya yakin hatinya hancur, namun terlihat dia berusaha keras untuk tabah. Justru ayah Panji yang terlihat lebih kalut. Dia sibuk membongkar barang-barang dengan mata yang terus mengucurkan air. Ternyata dia mengumpulkan baju-baju yang sering digunakan Panji. Baju-baju itu kemudian diikat dan diletakkan di dekat jenazah Panji untuk ikut dikuburkan. Ayah Panji hanya menyisakan beberapa baju, termasuk baju Lebaran yang belum sempat dipakai. Saya merasa ikut menanggung perasaan hancur yang dialami ayah Panji, apalagi Panji meninggal setelah semua ini.

Di rumah mungil yang sangat sederhana itu, saya kembali melihat Panji terbaring dengan tenang. Namun dia tidak sedang tidur seperti ketika saya datang beberapa hari sebelumnya. Dia sudah dikafani. Namun wajahnya dibuka. Mulutnya tersenyum. Dia tampak sangat damai. Ya, Panji memang sudah damai di pangkuan ilahi. Mungkin, dia saat itu tengah bermain-main bersama bayi-bayi lain di taman firdaus-Nya. Selamat jalan Panji. Selamat jalan si kecil yang kuat. Melalui hidupmu yang singkat kami belajar semangat tak kenal menyerah, peduli, berbagi, dan solidaritas.

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Mei    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.