Belajar kepedulian, solidaritas dan perjuangan hidup dari Panji

Saya “berkenalan” dengan Panji Risang Anugerah Putra sekitar empat bulan yang lalu sekitar April 2010, ketika seorang kawan reporter menulis tentang penderitaan seorang bayi yang kala itu berusia 4 bulan. Panji, anak kedua Dimas Rahutomo yang seorang karyawan kecil di sebuah perusahaan percetakan, lahir dengan sejumlah kelainan.

Selain jantungnya bocor di empat titik, ada infeksi pada paru-parunya dan tempurung kepala pun tidak normal. Sehari setelah lahir dengan bantuan bidan, Panji masuk ICU di RS Kasih Ibu Solo. Dia dirawat secara intensif selama 25 hari, kemudian dipindah ke bangsal biasa.

Genap satu bulan dirawat di RS, Panji boleh pulang. Namun keluarga harus selalu menyediakan oksigen murni di rumah untuk si kecil karena Panji tak mampu bernapas secara normal. Panji hampir tak pernah melewatkan seharipun tanpa selang oksigen di hidungnya. Ketika usianya sekitar tiga-empat bulan, kondisi Panji drop, dan dia kembali harus menjalani perawatan intensif yang panjang di rumah sakit tempat dia dirawat dulu.

Kesulitan keuangan karena harus menanggung biaya perawatan puluhan juta rupiah, membuat keluarga Panji pontang-panting mengurus asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin. Syukur Alhamdulillah, akhirnya Pemkot Solo memberikan bantuan berupa asuransi Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) yang menanggung biaya hingga Rp 5 juta. Lumayan, cukup membantu menutup hutang-hutang keluarga Panji kepada RS yang mencapai Rp 35 juta.

Saat itulah kisahnya diangkat di media tempat saya bekerja. Syukur Alhamdulillah pula, rasa peduli dan solidaritas masih ada di benak segelintir orang di negeri ini. Ketika kisahnya diketahui orang banyak, sejumlah pihak spontan menyatakan ingin membantu keluarga Panji. Saya sendiri, melalui status di Facebook, mencoba menarik simpati kontak-kontak saya. Walhasil, banyak teman langsung mengirimkan sejumlah uang ke rekening saya. Dalam waktu 2 hari terkumpul Rp 4 juta, kemudian saya titipkan kepada kawan reporter yang mengawal pemberitaan tentang Panji. Sementara itu Ketua Golkar Solo, H Hardono, yang mengetahui kasus Panji secara khusus datang ke rumah kecil tempat tinggal keluarga Panji, untuk memberikan bantuan. Konon, Wakil Walikota yang juga Ketua PDIP, Rudy Hadyatmo, juga secara khusus membantu. Luar biasa, ketika dua partai berbeda bersatu padu dalam sebuah misi kemanusiaan.

Akhirnya, titik terang pun datang ketika dua RS bersedia mengoperasi kebocoran jantung Panji secara gratis. RS Cipto Mangunkusumo dan RS Jantung Harapan Kita. Akhirnya Panji dibawa ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta, setelah memperoleh kepastian tanggal operasi. Sempat beberapa kali ditunda, akhirnya pertengahan Juni 2010 Panji dioperasi. Ada 4 bayi yang sama kasusnya dengan Panji dioperasi pada hari yang sama. Namun atas kehendak-Nya, hanya Panji yang bertahan hidup setelah dioperasi, walau mengalami tekanan paru-paru yang parah. Saya sempat berkomunikasi dengan ibu Panji, Lirih Juwitasari, yang selalu ada di sisi Panji saat dirawat Jakarta, demi memperoleh kelengkapan berita dan gambaran lebih jelas tentang Panji pascaoperasi.

Saat itulah dia berkeluh kesah, bahwa ternyata RS hanya menanggung biaya operasi. Sementara akomodasi ditanggung pasien. Dia mengatakan, Panji harus selalu disuntik untuk mengurangi tekanan paru-parunya, dengan obat suntik yang harganya Rp 750 ribu sekali suntikan. Dan keluarga harus menyediakan uang cash untuk itu. Ibu Lirih pun mengatakan, tak tahu harus bagaimana karena uangnya sudah hampir habis sama sekali. Saya tak tega mendengarnya. Saya beranikan diri menghubungi Pak Hardono, yang tengah mengikuti acara Golkar di Jakarta. “Tidak semestinya orang tidak mampu bernasib seperti itu. Saya akan bicarakan dengan Menkokesra,” ujar dia waktu itu.

Pagi harinya, saya mendapat kabar dari Ibu Lirih, bahwa akhirnya RS membebaskannya dari semua tagihan atas instruksi dari Menkokesra. Saya pun menghubungi Par Hardono kembali untuk meneruskan ucapan terima kasih dari keluarga Panji. Dua bulan dirawat di RS Jantung Harapan Kita, kondisi Panji terus membaik. Jantungnya normal, tekanan paru-parunya juga stabil, hingga akhirnya dia dinyatakan sehat dan tidak lagi butuh oksigen untuk menopang aktivitas pernapasannya. Panji pun dibawa pulang kembali ke Solo, tepat di awal Ramadan.

Saya ikut melonjak kegirangan ketika ibu Panji menelepon saya, mengabarkan berita gembira tersebut. Hal paling membahagiakan bagi saya sebagai seorang wartawan adalah ketika bisa membantu orang dengan kerja jurnalistik saya.

Sekitar satu pekan setelah Panji diboyong ke Solo, saya mengunjungi keluarga itu. Baru kali itu saya bertemu langsung dengan Panji dan ibu Lirih. Saya bawakan beberapa potong baju baru buat Panji dan kakaknya, Lintang. Sayang, saat itu Panji sedang tidur pulas. Padahal saya ingin sekali menggendongnya. Entah mengapa, saya merasa sayang kepada bayi ini, di samping kagum atas kekuatannya dalam menanggung penderitaan. Melihat Panji, saya jadi ingat anak saya, Daffa Naufal Azmi, yang juga mengalami bocor jantung dan meninggal 7 jam setelah saya lahirkan. Saya pandangi Panji dalam tidurnya. Anaknya ganteng, bersih walau kurus. Di usia 8 bulan, berat badan Panji hanya 4,5 kilogram. Saat itu ibu Lirih bercerita, Panji begitu dibawa di rumah sempat rewel dan sesak napas. Dokter menyatakan itu hanya masalah penyesuaian dengan cuaca, tidak ada yang serius.

Namun Tuhan ternyata berkehendak lain. Jumat (27/8), tepat jam 08.00 saat mengawali kerja, saya ditelepon ibu Lirih. Sambil menangis dia bercerita, Panji baru saja meninggal setelah tiba-tiba mengalami sesak napas hebat, dan sempat dirawat beberapa jam di Ruang ICU RS Kasih Ibu Solo. Saya kaget dan sangat sedih mendengarnya. Air mata saya terus mengucur hingga siang saat istirahat kantor, yang saya gunakan untuk menyambangi rumah duka.

Ibu Lirih menyambut saya dengan mata merahnya. Saya yakin hatinya hancur, namun terlihat dia berusaha keras untuk tabah. Justru ayah Panji yang terlihat lebih kalut. Dia sibuk membongkar barang-barang dengan mata yang terus mengucurkan air. Ternyata dia mengumpulkan baju-baju yang sering digunakan Panji. Baju-baju itu kemudian diikat dan diletakkan di dekat jenazah Panji untuk ikut dikuburkan. Ayah Panji hanya menyisakan beberapa baju, termasuk baju Lebaran yang belum sempat dipakai. Saya merasa ikut menanggung perasaan hancur yang dialami ayah Panji, apalagi Panji meninggal setelah semua ini.

Di rumah mungil yang sangat sederhana itu, saya kembali melihat Panji terbaring dengan tenang. Namun dia tidak sedang tidur seperti ketika saya datang beberapa hari sebelumnya. Dia sudah dikafani. Namun wajahnya dibuka. Mulutnya tersenyum. Dia tampak sangat damai. Ya, Panji memang sudah damai di pangkuan ilahi. Mungkin, dia saat itu tengah bermain-main bersama bayi-bayi lain di taman firdaus-Nya. Selamat jalan Panji. Selamat jalan si kecil yang kuat. Melalui hidupmu yang singkat kami belajar semangat tak kenal menyerah, peduli, berbagi, dan solidaritas.

Add a comment September 1, 2010

Suatu hari di jendela itu…

Jendela samping rumah itu terbuka. Itu bisa kami lihat dari jalan di depan rumah, yang jaraknya sekira 15 meter dari jendela itu. “Asyik,” pekik kakak saya. Saya pun membatin hal yang sama.

Itu sekitar tahun 1981 atau 1982. Saya dan kakak saya, Uci, beringsut menuju jalan tembus kecil di samping rumah, yang biasanya digunakan untuk keluar-masuk “orang luar”, artinya, bukan kalangan keluarga yang tinggal di rumah besar itu. Tak lama sampailah kami di jendela itu, tentunya setelah menyandarkan dengan hati-hati sepeda mini yang kami tumpangi berboncengan dari rumah.

“Mbak Ana? Mbak?” panggil kakakku, seperti hari-hari sebelumnya ketika kami datang ke jendela ini untuk “misi” yang sama. Aku harus berjinjit agar mataku bisa mencapai kusen jendela. Kadang sebentar kemudian, seorang remaja putri seusia kakakku dengan kacamata tebal melongokkan kepalanya. Kadang agak lama, sehingga kami harus menunggu. Kadang bahkan Mbak Ana, remaja itu, tidak muncul sama sekali. Sebagai gantinya, seseorang yang entah siapa akan berteriak tanpa kami lihat sosoknya, yang mengabarkan Mbak Ana sedang tidak ada di rumah. Dan kami pun akan mengambil kesimpulan: mungkin jendela terbuka karena sedang dibersihkan oleh pembantu rumah tangga.

Mbak Ana adalah anak seorang dokter, satu-satunya di desa kami. Walaupun lain SD, namun kakakku dan Mbak Ana kenal baik, karena memang di desa kecil, siapa sih yang tidak saling kenal, sama-sama suka membaca lagi, hobi yang cukup langka dilakukan anak-anak di desa itu.

Menurutku Mbak Ana baik sekali, karena suka meminjamkan buku kepada kakakku. Dan biasanya saya ikut dapat rejeki, karena Mbak Ana juga suka membeli cerita bergambar kesukaanku.

Lalu biasanya kakakku akan menyodorkan buku kepada Mbak Ana, buku yang kami pinjam beberapa hari sebelumnya, dan kemudian terlibat dialog singkat dengan Mbak Ana. “Ada yang baru ni,” kata Mbak Ana kalau memang ada buku baru. Bisa serial Trio Detektif. Atau Lima Sekawan. Atau sekadar cerita bergambar seperti serial Kisah Petualangan Tintin, Lucky Luke dan Donal Bebek. Mbak Ana selalu singkat kalau bicara. Hanya satu-dua patah kata. Aku sendiri belum pernah bicara dengan dia.

Kalau sudah dapat bukunya, kami akan langsung pulang, dan mengembalikan tepat waktu yang sudah disepakati, tentu bila jendela itu terbuka. Pada saat lain dia akan mengatakan, “Wah, belum ada yang baru.” Dan kami pulang dengan sedih, karena tidak ada buku yang bisa dibaca.

Saya masih sangat kecil waktu sering ikut kakak melakukan transaksi “pinjam buku” di jendela kamar Mbak Ana. Mungkin Kelas I atau II SD. Sementara usia kakak tiga tahun di atasku Saya tidak pernah menghitung berapa buku sudah keluar masuk dari jendela itu. Yang jelas banyak sekali. Kami pun sangat kehilangan ketika sekitar tahun 1983, saat Mbak Ana memasuki usia SMP, dia bersekolah di kota, jauh dari desa kami. Transaksi pinjam buku terhenti sejak saat itu. Tak ada lagi sensasi ketika kami melihat jendela di rumah besar itu terbuka, dan tirainya melambai-lambai tertiup angin.

Kami sedih sekali. Sebagai gantinya, pada hari-hari berikutnya kami melihat jendela itu selalu dalam keadaan tertutup. Kadang saat bapak memeriksakan kami yang sakit ke tempat praktek Pak Dokter yang notabene ayah Mbak Ana, kami berharap jendela itu terbuka, dan buku-buku baru siap kami bawa pulang. Tapi semua tinggal kenangan. Kenangan akan sebuah jendela yang selalu melekat di hati, hingga saat ini, ketika bahkan tak ada lagi ruang kosong tempat kami bisa menyelipkan buku, saking banyaknya buku yang kami miliki.

Jendela itu sangat berjasa membangkitkan semangat kami untuk membaca, mengenal dunia luar lewat buku. Berfantasi seandainya kami adalah tokoh Anne, salah satu anggota Lima Sekawan, dan membayangkan menjadi wartawan yang ulet dan tangguh seperti Tintin. Melalui tulisan ini, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Mbak Ana.

Sejak Mbak Ana pergi, kami tetap membaca buku, kebanyakan pinjaman dari tetangga yang lain. Ada beberapa yang kami beli sendiri, namun jarang sekali. Biasanya kalau habis dari rumah nenek atau saudara, kami dapat uang, dan uang itu dikumpulkan untuk membeli buku. 

Namun kami tetap bersyukur, karena kedua orangtua kami yang berprofesi guru, selalu mendorong kami untuk selalu membaca. Kalau tidak, tentu bapak tidak akan membawakan majalah Si Kuncung dari sekolah. Walaupun tidak ada lagi Trio Detektif, Lima Sekawan atau Tintin, kami bisa membaca serial Di Rumah nenek Limbak yang ada dalam majalah Si Kuncung. Atau terpaksa mengeja tulisan-tulisan kecil dalam serial horor Alaming Lelembut pada majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat, karena bapak kami adalah pelanggan setianya.

Add a comment Mei 7, 2010

Mengapa UN harus ditentang…

Ujian Nasional (UN) sudah banyak yang menentang. Bahkan sejumlah orangtua yang keberatan memenangkan gugatan di tingkat Mahkamah Agung. Namun Mendiknas nekat menyelenggarakan. Yah, sepertinya memang sayang melewatkan proyek senilai Rp 592 miliar.

Well, tulisan ini tidak akan menyoal anggaran UN. Walaupun hal itu juga sangat pantas menjadi perhatian. Lebih dari itu, masih banyak alasan yang lebih penting sehingga UN harus dihapuskan dari muka Bumi Pertiwi.

Ada keperihan yang mendalam saat saya menyaksikan jeritan, ratapan dan tangisan anak-anak yang tak lulus UN. Mereka menggelepar-gelepar, merasa jerih payah yang telah dilakukan selama tiga tahun sia-sia hanya karena ketidaklulusan satu mata pelajaran yang dikerjakan dalam waktu 1,5 jam.

Saya seorang ibu yang membayangkan apa yang mungkin terjadi tiga tahun lagi, bila anak saya duduk di Kelas VI SD. Untuk diketahui, saat ini konsep UN tingkat SD sedang digodok, dan mungkin akan menggantikan UASBN. Artinya, seperti UN tingkat SMP dan SMA, maka tidak lulus satu pelajaran saja, anak akan tidak lulus dan terhambat kelangsungan pendidikannya ke jenjang berikutnya.

Haha, gampang sekali Mendiknas memutuskan program UN terus berlanjut, dan dengan enteng mengatakan, “Tidak lulus itu biasa…” Tidak ada empati sama sekali. Benar-benar zalim. Walau alasannya terdengar keren: meningkatkan mutu pendidikan.

Tapi yang terjadi dengan UN adalah sebaliknya. Sejak UN digelar untuk kali pertama, sudah dianggap sebagai sumber kecurangan. Kecurangan dilakukan untuk mengejar angka kelulusan, dan juga menjadi tolok ukur kualitas sekolah, yang tentu saja semuanya hanya kamuflase, karena dilakukan dengan curang! Anak-anak pedalaman yang mayoritas lulus itu, karena diajari sama gurunya. Ini sudah menjadi rahasia umum. Tahun 2010, peringkat kejujuran naik, tapi konsekuensinya banyak sekolah yang tidak meluluskan hingga 100% siswanya. Dengan kata lain, kelulusan berbanding lurus dengan ketidakjujuran. Apakah ini bisa dinamakan peningkatan mutu pendidikan?

Demi alasan yang sama, setiap tahun standar minimal kelulusan dinaikkan. Satu saja di antara beberapa mata pelajaran UN tidak lulus, maka siswa dinyatakan tidak lulus. Sehingga juara olimpiade matematika bisa tidak lulus karena jeblok di bahasa Inggris. Anak yang sudah mendapat PMDK pun tak sedikit yang tidak lulus. Beginilah, sebab UN hanya mementingkan hasil, tidak melihat proses. Proses pembelajaran 3 tahun jadi sia-sia ketika anak gagal dalam satu saja mata pelajaran yang dikerjakan dalam waktu 1,5 jam. Sehingga UN menafikan peran guru, orangtua, dewan pendidikan dan komite sekolah yang telah bertahun-tahun menempa pendidikan anak-anak itu. Masa depan pun terancam hancur karena hanya karena 1 pelajaran jeblok. Ya begini bila mutu pendidikan didasarkan pada angka-angka.

Satu lagi, anak di sekolah yang keren di kota besar, belajar di kelas ber-AC, mengikuti bimbingan belajar setiap sore, mengerjakan soal yang sama dengan anak di yang tinggal jauh di pedalaman, mendaki gunung dan menembus hutan agar bisa mencapai sekolahnya yang reyot. UN dijalankan dengan tidak melihat berbagai kesenjangan itu. Inilah Indonesia, “pendidikan untuk semua” selalu didengungkan, namun hanya lips service. Kalau mau UN dijalankan dan MENENTUKAN KELULUSAN, bikin semua anak merasakan fasilitas pendidikan yang sama dulu…!!

Yang paling parah, selama ini tidak semua anak yang tidak lulus mau mengikuti ujian ulangan. Sebagian mereka masuk RS jiwa. Sebagian yang lain mati bunuh diri. Sebagian lagi memilih tidak bersekolah, karena dalam pikiran orangtua-orangtua murid yang sangat sederhana, sekolah yang sudah dibayar mahal hanya menjadi sumber masalah ketika anak tidak lulus. Mereka pikir tidak ada gunanya sekolah. Angka putus sekolah pun meningkat. Bukankah ini bertentangan dengan program Wajib Belajar?

Dulu, ketika saya SD, SMP dan SMA, ada sistem Ebtanas. Nilai Ebtanas Murni (NEM) tidak menentukan kelulusan, namun digunakan saat siswa melanjutkan ke jenjang berikutnya. NEM bagus, dapat sekolah bagus. NEM jelek, dapat sekolah jelek. Sangat fair. Sementara kelulusan diserahkan kepada Dewan guru setelah melihat proses belajar mengajar tiga tahun. Tentu ada yang protes, cara seperti ini akan mendatangkan masalah karena rawan terjadi KKN. Namun setidaknya selain itu, cara ini jauh lebih manusiawi, tidak mengancam program wajib belajar.

4 komentar Mei 3, 2010
Tag:

Agamaglobulin-emia, membunuh bayi-bayi laki-laki di keluarga kami…

Sudah lama sebenarnya saya ingin nulis tentang sesuatu yang menyesakkan dada. Awal saya ngeblog juga sebenarnya dipicu masalah ini. Saya ingin sharing. Tapi untuk mengungkapkannya ternyata butuh kesiapan tersendiri. Terutama pertimbangan semoga apa yang saya lakukan tidak dianggap mencemarkan aib keluarga. Di samping saya juga kagak mau dikira sekadar mencari sensasi, simpati atau apa. Insha Allah kami ikhlas kok…

Tapi kemudian saya yakinkan diri, ini bukan aib. Ini hanya sebuah kasus penyakit genetis, seperti diabetes melitus, hemofili, albino dan yang lainnya. Siapapun bisa terkena. Kendati kasus di keluarga kami ini saya kira termasuk jarang. Lebih dari itu saya kira dengan sharing kita jadi bisa saling berkaca, belajar, bersama mencari solusi, dan menjadi bekal bagi kita untuk bersikap lebih bijak, semoga…

Bismillahirrahmanirrahim…

Kenapa di awal ngeblog saya banyak menulis tentang info-info kesehatan, tentang penyakit-penyakit imunodefisiensi dan sebangsanya? Tak lain dan tak bukan, itu semua adalah hasil belajar dan proses dari upaya mencari kejelasan tentang kasus yang terjadi di keluarga saya.

Sebelumnya, saya perkenalkan:

1. Nugroho Tri Hastaryo (kakak saya, meninggal di usia 8 bulan)

2. Puthut Bayu Sasmiyarso (sepupu saya, meninggal di usia 8 bulan)

3. Pekik Tangguh Satriawan (adik dari Puthut, meninggal di usia 7 bulan)

4. Satriyo Agung Prabowo (keponakan saya, meninggal di usia 4 bulan)

5. Dimas Satriyo Patrapno Yudhonegoro (adik Satriyo AW, meninggal 6 bulan)

6. Muhammad Hariz Baruch (adik Satriyo dan Dimas, meninggal di usia 6 bulan)

7. Belum dikasih nama (anak sepupu, meninggal beberapa jam setelah lahir)

8. Daffa Naufal Azmi (anak saya, meninggal 7 jam setelah lahir)

9. Daffa Agesta (anak dari sepupu saya, meninggal di usia 4 bulan)

Dalam dua generasi, saya kira Anda sependapat dengan saya: terlalu banyak bayi laki-laki yang sakit, kemudian meninggal. Buruknya lagi, dari mereka beberapa adalah kakak-adik… cobaan berat bagi kedua orangtuanya, harus kehilangan bayi-bayi mereka berturut turut…

Bisakah Anda membayangkan bagaimana perasaan kakak saya, harus kehilangan tiga bayinya berturut turut saat sedang lucu-lucunya…?

Saya juga masih ingat, dulu sepupu saya (kakak Putut dan Pekik) selalu dititipkan di rumah kami, karena orangtuanya sibuk mengurus si adik yang sakit, lalu meninggal. Ada adik lagi, tapi saat usia 7 bulan sakit lagi dan meninggal.

Kasus-kasus di atas ini membuat saya penasaran, belajar, cari info ke sana cari info ke sini, browsing sana browsing sini… Terus terang, penjelasan-penjelasan dari dokter yang menangani kasus bayi-bayi di atas tidak memuaskan. Hingga akhirnya saya bertemu dr Pongki Suryotriwati SpA, dokter anak yang mengisi acara perbincangan kesehatan rutin di radio tempat saya bekerja. Dari pertemuan beberapa kali dengan beliau, saya mendapatkan clue. Dia minta saya browsing tentang penyakit penyakit imunodefisiensi, khususnya agamaglobulin-emia. Dia sendiri juga jadi belajar lagi, karena kasus yang saya ceritakan ini adalah yang pertama sepanjang dia berpraktek sebagai dokter anak.

Lalu saya pun cari-cari sendiri dengan bantuan Paman Google.. dan bak seorang dokter, saya akhirnya menegakkan sebuah diagnosis (kurang ajar saya ya? haha!). Bahwa memang “agamaglobulin-emia X-linked” yang telah membunuh bayi-bayi laki-laki di keluarga kami. Sebuah penyakit dari jenis imunidefisiensi yang diturunkan, dan linked dengan kromosom X. Penderitanya hanya memiliki kekebalan tubuh yang dibawanya saat lahir, namun tidak akan pernah mendapatkan kekebalan tubuh yang baru. Biasanya kekebalan tubuh bawaan lahir ini akan habis antara 0-6 bulan… dan setelah itu Anda tahu… kita hidup dikelilingi bakteri, kuman virus yang bisa menyerang sewaktu-waktu… Maka beruntunglah kita karena memiliki kekebalan tubuh sehingga serangan serangan bakteri/kuman/virus itu tak berakibat fatal bagi kita.

Namun bagi bayi-bayi penderita agammaglobulinemia, kuman dan bakteri adalah musuh sangat berbahaya. Contoh kasus, bakteri pseudomonas yang membunuh keponakan saya Satriyo… yang bagi orang normal yang memiliki kekebalan tubuh sebenarnya gampang ditangkal oleh bakteri baik. Sedangkan Daffa Agesta hanya terserang bakteri E-Coli yang sebenarnya bagi orang biasa paling hanya mengakibatkan diare. Bila cepat ditangani, pasien akan membaik. Tapi bagi Satriyo maupun Daffa, bakteri pseudomonas dan E-Coli ini masuk ke dalam darah (sepsis) dan akhirnya berkembangbiak di sana dan berkembang cepat menyerang semua organ tubuh yang dilalui aliran darah. Organ-organ penting satu demi satu kehilangan fungsinya, dan akhirnya dua bayi tak berdosa ini pun tidak mampu bertahan.

Sebagaimana pada kasus hemofili, dalam kasus ini anak-anak perempuan adalah pembawa sifat (carrier), sedangkan anak laki-laki yang menderita. Namun seperti dalam pelajaran biologi yang saya pelajari di SMA, di antara deretan keturunan, akan ada anak-anak perempuan pembawa sifat, ada yang akhirnya lolos (beruntung tidak membawa sifat). Dan bila lahir anak laki-laki, akan ada anak-anak laki-laki yang menjadi penderita, dan ada pula yang tidak. Susahnya, kami tidak akan pernah tahu siapa pembawa sifat itu, pun tak pernah tahu anak mana yang nantinya akan menjadi penderita…

Itulah mengapa, saat hamil saya berdoa, agar mendapatkan bayi perempuan… Itu juga mengapa, saya tidak pernah menanggapi serius, teman saya yang ngompori, agar saya punya anak lagi, anak laki-laki yang akan melengkapi keluarga… mereka tidak mengerti…
hariz

8 komentar Juli 3, 2009
Tag:

Kembali ke Facebook…

Sebenarnya ini cerita agak basi. Tapi kayaknya tidak fair kalau tidak saya ceritakan, sebab dulu di MP sekitar bulan Maret, saya pernah berkisah bahwa saya meninggalkan Facebook, dengan alasan terganggu bahkan terancam “seseorang dari masa lalu”.
Setelah kurang lebih satu bulan meninggalkan Facebook, akhirnya saya kembali dengan semangat baru, visi dan misi baru *halah*.

Bagaimanapun saya akui pesona Facebook memang memukau. Selain bisa menjadi sarana ampuh menyalurkan hasrat narsis kita, fiturnya yang memungkinkan saya menemukan kembali bahkan langsung terhubung melalui FB messenger dengan rekan-rekan dan handai taulan yang sempat terpisah, sungguh suatu keajaiban.

Namun saya akui, seperti pisau bermata dua. Bila tidak bijak menggunakannya, seperti juga situs jejaring sosial lainnya, Facebook akan membuat kita terjerembab ke jurang nestapa yang tidak kita inginkan. Makanya bagi yang sudah menjerumuskan diri ke dunia Facebook, saya sarankan berhati-hati.

Well, ceritanya, gara-gara keluar secara temporary dari Facebook-lah saya banyak belajar tentang Facebook. Dalam pelarian, saya menemukan tips-tips bagaimana cara ber-Facebook dengan aman dan terkendali. Tips ini mungkin sudah banyak yang tahu, dan satu orang bisa cocok dengan ini, tapi mungkin bagi yang lain, tips ini tidak cocok, tergantung sikon. Tapi tak ada salahnya bila berbagi dengan yang belum tahu kan?

* Meng-add dan menerima add hanya dari orang yang jelas kita kenal, atau orang yang tidak kita kenal namun kita yakin reputasinya tidak diragukan.

* Bila dalam perkembangan ada sesuatu yang membuat kita tidak nyaman, dan ingin menghapus seseorang dari daftar kontak, lakukan tanpa ragu-ragu. Sebab ternyata orang yang kita hapus itu, tidak akan tahu dirinya kita hapus dari daftar kontak kita. So, dengan demikian tidak akan membuat dia tersinggung.

* Bila seseorang bertindak menyebalkan, namun kita tidak sampai hati menghapusnya dari daftar kontak, cukup sembunyikan saja status-statusnya, dengan cara menekan simbol X di samping statusnya. Dengan demikian status orang itu tidak akan terlihat lagi. Sejauh ini saya lakukan ini terhadap orang yang:

A. terlalu banyak memposting status dalam sehari.
B. terlalu banyak menulis status-status nggak mutu, nggak sopan dan nggak penting
C. memposting status “itu-itu saja”.
D. hanyut dalam dindingnya sendiri, kagak pernah FB-walking

* Bagi kontak yang sudah benar-benar membuat kita merasa tidak nyaman, terteror, terancam dengan keberadaannya, silakan blokir saja. Caranya masuk di pengaturan, lalu klik privacy. Kita bisa memblokir orang yang sudah masuk kontak kita maupun belum. Dengan demikian, orang yang kita blokir tidak akan bisa mengakses kita, mengetahui keberadaan kita di dunia Facebook dan melihat postingan2 kita di halaman kita maupun di halaman kotan-kontak kita. Demikian juga sebaliknya.

Ini dulu sharing saya hari ini, semoga bermanfaat. Selamat ber-FB secara sangkil dan mangkus

2 komentar Juni 5, 2009

Saya juga punya pengalaman pahit sama dokter…

Kasus Prita (semoga keadilan berpihak kepadanya) mengingatkan saya pada kasus yang saya alami. Tahun 2000, 2 bulan setelah menikah, saya dinyatakan hamil. Secara anak pertama gitu loh, kami ekstra hati-hati dan secara rutin kontrol ke seorang dokter SPOG yang konon waktu itu paling top di Solo.

Singkat cerita, tanggal 22 Januari 2001 saya melahirkan anak laki-laki (49cm/29gr) yang kemudian kami beri nama Daffa Naufal Azmi, dengan pertolongan sang dokter top tersebut. Tapi apa mau dikata. Perjuangan mengandung dan melahirkan harus berujung pada kisah pilu, meninggalnya anak saya 7 jam setelah saya lahirkan. Saya sendiri baru tahu anak saya meninggal setelah 3 hari kemudian.

Yeah, the show must go on. Walau hati hancur, sebagai orang beriman saya mencoba ikhlas dan mencoba berpikir realistis. Satu minggu setelah melahirkan, saya kontrol kepada si dokter SPOG. Mosok dia malah bertanya: Gimana setelah melahirkan? KB saja? Saya pun merefresh memorinya: Bagaimana mau KB, Dok? Saya mau hamil lagi, sesegera mungkin, karena anak saya meninggal!

Haha, ajaib.. rupanya dia sudah melupakan saya (mungkin saking banyak pasien). Tanpa berlarut-larut dalam kedongkolan, saya minta advisnya. Dia menyarankan saya periksa TORCH yang mahal. Tapi itu saya lakukan, karena itu adalah advis dokter– kepadanya saya percayakan nasib saya dan calon anak saya.

Hasilnya? saya negatif Tokso, sementara untuk CMV (Cito Megalo Virus) dan Rubella ada angkanya, di kolom IGG. Sementara di IGM nol. Lalu si dokter menyatakan, dengan adanya angka itu, maka berbahaya bagi saya untuk hamil. Lalu saya diberi sebuah resep obat untuk diminum sehari sekali, namanya Valtrex, yang belakangan saya ketahui ini adalah sejenis antbiotik yang sangat keras. Bukan cuma itu, harga satu resep untuk 14 hari lebih tinggi dari gaji yang saya terima satu bulan!

Tapi masih alhamdulillah, resep yang pertama, saya tebus dengan uang klaim asuransi pasca rawat inap. Lalu saya cek lab lagi. Tapi hasilnya masih ada angka-angka di kolom IGG itu, yang nyaris sama! Lalu si dokter kasih resep yang sama. Karena saya minim dana, saya kong kalikong dengan seorang detailer, sehingga Valtrex2 selanjutnya saya peroleh dari dia, bukan dari apotek. Sementara itu saya mencegah diri untuk hamil dulu.

Tapi lagi-lagi hasil tes menunjukkan hasil yang sama. Saya pun mulai curiga kepada Om Dokter ini. Saya coba mencari informasi dari manapun, browsing di internet dll soal Rubella dan CMV ini, sampai akhirnya saya mendapatkan informasi digelarnya sebuah simposium bagi dokter SPOG membahas Seluk Beluk CMV di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta yang digelar sekitar bulan Juni 2001.

Dorongan untuk segera mempunyai anak, membuat suami saya nekat menyelundupkan diri ke dalam acara itu. Hanya dia peserta simposium yang bukan dokter SPOG! Dahsyatnya suamiku…. luv U much..

Di sela-sela acara, suami saya menemui para profesor/dokter senior yang tampil sebagai pembicara, dengan menunjukkan segepok hasil lab saya. Tahu apa kata para Profesor itu? “Ah ha! Ini dia yang suka salah. Angka di IGG itu ada di setiap orang yang tidak perlu ditakutkan. Yang perlu mendapatkan penanganan serius kalau ada angka di IGM!”

Mr Profesor bertambah kaget, ketika tahu saya telah berbulan bulan mengkonsumsi Vartrex! Katanya, “Itu sangat keras lho! Cepat hentikan!”

Well… saya seperti bumi disambar petir, karena ternyata dokter yang saya percayai selama ini, telah salah menangani saya! Ini artinya apa? Mal praktek! Bisa menjadi masalah hukum! Tapi baiknya saya, saya tidak menggugat dokter itu…. Halah, bukan karena saya baik ding, tapi karena saya tidak punya dana untuk membayar biaya hukum… sementara dokter itu pasti punya duit banyak. Nah, bisa ditebak, salah2 saya yang malah masuk penjara seperti Prita!

Namun sebentar kemudian seperti kemarau disiram air hujan. Berarti, saya tak perlu takut hamil, kan? Amarah dan dendam kepada dokter yang salah memberikan diagnosis, berangsur angsur pudar berganti harapan. Saya pun konsentrasi untuk mempunyai anak, dan berganti dokter SPOG untuk memeriksakan diri sebelum hamil.

Demi memastikan apakah saya datang ke dokter yang tepat, saya kasih hasil-hasil lab saya kepada dokter SPOG saya yang baru ini. “Oooohhh… tidak masalah Bu… silakan saja kalau mau hamil…”

Saya pun melupakan dokter SPOG yang lama. Singkat kata lagi, setelah penyerbukan, terjadi pembuahan, dan saya melahirkan anak perempuan yang sehat tepat 23 Mei 2002. 5 Tahun kemudian, 18 Agustus 2007, saya punya anak lagi, perempuan lagi. Alhamdulillah…. semua kehendak-Mu… kepada-Mu aku pasrahkan hidup dan matiku ya Allah..

6 komentar Juni 5, 2009
Tag:

Momok menakutkan itu adalah UN

Ujian Nasional bagi siswa SMA dan SMP atau yang sederajat telah selesai digelar. Menyusul UAS BN bagi siswa SD. Seperti UN yang sudah-sudah, UN tahun ini pun dikabarkan diwarnai aksi kecurangan. Itu terjadi di berbagai daerah di seluruh penjuru tanah air Indonesia Raya ini.

Sekadar contoh kecil, di Bengkulu, guru ketahuan memberikan bocoran jawaban UN kepada peserta didiknya. Kejadian ini seakan mengulang peristiwa tahun lalu, sebuah kejadian menghebohkan dan tak terluipakan, ketika guru di sebuah sekolah di Deli Serdang digerebek tim Detasemen 88 Antiteror, karena membantu siswa mengerjakan soal UN. Guru-guru itu merasa kasihan kepada para siswanya, saat UN mata pelajaran Bahasa Inggris, dan nekat melakukan perbuatan terlarang itu setelah melihat pena sang siswa tak bergerak saat mengerjakan soal-soal ujian nasional.

Bagaimanapun, tentu para guru itu tidak rela, bila nilai yang dicapai para siswa nantinya tidak mencapai angka minimal kelulusan. Karena bila itu terjadi, satu saja angka tidak lulus terjadi pada sebuah mata pelajaran yang di-UN-kan, maka musnahlah harapan yang telah dipupuk selama tiga tahun. Dan inilah kenyataan yang terjadi, ketika kelulusan dan masa depan anak diserahkan pada angka.

UN benar-benar telah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa, berikut orangtua murid dan tak terkecuali guru-guru. Pasalnya nilai UN hingga kini masih menjadi sebagai salah satu penentu kelulusan. Bisa dibayangkan bila nilai tak memenuhi, seorang siswa terancam kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Bayangan yang suram ini pun membuat mereka stres berat sebelum “bertanding”, bahkan ada yang sampai mengalami depresi.

Beban psikologis ini masih harus terus dipikul, hingga pengumuman hasil ujian. Mungkin setelah pengumuman ada yang bernapas lega. Namun sebaliknya, ada pula yang harus bertambah bebannya, karena hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Mungkin masih lekat dalam ingatan kita, peristiwa tahun lalu, ketika seorang siswa SMP nekat bunuh diri karena nilai UN salah satu mata pelajaran tidak memenuhi standar minimal kelulusan.

Tak hanya bagi siswa, beban psikologis serupa dirasakan para orangtua. Sedangkan bagi guru-guru dan sekolah, UN menjadi standar keberhasilan kinerja, dan upaya mendongkrak citra. Sehingga ada sekolah tertentu yang melakukan segala cara agar hasil UN baik, dan nama sekolah terselamatkan di mata publik. Sudah menjadi rahasia umum, di pelosok-pelosok, sejumlah sekolah terang-terangan memberikan kunci jawaban kepada peserta UN.

Karut marutnya pelaksanaan UN di tanah Air, merupakan cermin karut marutnya pendidikan di negeri ini secara keseluruhan. UN hanyalah sekelumit dari seambreg masalah. Masalah lain menambah daftar panjang buruknya wajah pendidikan kita, termasuk sistem pendidikan yang tak mendukung, biaya yang tak terjangkau, kurikulum yang kacau, hingga korupsi para pejabatnya.

UN itu perlu, tapi bukan untuk menentukan kelulusan. UN hanya dibutuhkan untuk menjadi salah satu alat memetakan potensi dan kelemahan daerah terhadap kemampuan penyerapan pelajaran. Bila hasil UN Matematika di daerah X lemah, maka tugas pemerintah untuk melakukan segala cara memperbaikinya.

Sudah waktunya pelajar Indonesia memperoleh pendidikan yang lebih membebaskan. Biarkan mereka belajar karena senang. Biarkan mereka mengembangkan kreativitas tanpa ketakutan… jangan biarkan mereka terus terjebak pada sistem pendidikan yang berorientasi pada angka-angka.

2 komentar Mei 29, 2009
Tag:

Status-status di Fesbuk…. Ooooh!!!

Dari statusnya, bisa ditebak sifat seseorang. Ini hasil diskusi saya hari ini dengan seorang teman. Walaupun di saat lain dalam diskusi lain, kami juga pernah menyimpulkan: Tidak ada yang asli di dunia maya…
Wallahu a’lam.

Kalau saya pribadi, cenderung sepakat yang pertama. Mungkin dasarnya saya aja yang suka “menuduh” orang itu bagaimana, begini apa begitu berdasarkan statusnya. Menurut saya ada garis merah yang bisa ditarik di antara berbagai status seseorang, yang mengerucut pada kesimpulan tentang sifat asli orang tersebut. Tak sekali dua kali saya dan orang yang berbeda setiap harinya mendiskusikan (sebenarnya menggunjingkan) orang berdasarkan statusnya. Lalu menyimpulkan apakah seseorang itu unik, baik hati, disorientasi, belagu, dll dll dll….
Dan ini sungguh kegiatan yang menarik!!  Terima kasih fesbuk udah memberikan kami bahan diskusi!

Kalau ini bukan hasil diskusi, tapi perenungan saya sendiri setelah mengamati status-status itu, ditambah pemikiran teman saya, yang ternyata: kebanyakan status itu dibuat sebagai pemenuhan atas dan bagi jiwa-jiwa yang kurang penuh, serta penampung luapan bagi jiwa -jiwa yang terlalu penuh. Hahahaaa!!

Tapi lepas dari semua itu, postingan saya ini benar-benar didasari keisengan semata, karena hari ini saya kurang kerjaan. Hihihihihihiiiiiiii

Dan berikut ini adalah contoh status-status itu:

Statusnya orang Melacur (Curhat  mode-on):

– saat yang lain nurunin tarif, tarif SMS IM3 malah naik 25%. Oh, Dik Asmirandah mengapa kau begitu kejam pada Aa’ Andi?
– merasa ada yg mendesir di Pembuluh nadi. Gak ketemu Pearl & Zildjian, GPP kok… Yang penting masih bisa Menghajar!!
membuang waktu dgn ngrasa kehilangan smangat…

Statusnya Orang puitis:

– dunia perlahan berputar normal, saatnya menyusun puing-puing keyakinan
Mencoba manahan himpitan rasa itu…
Masih sanggup berdansa… masih sanggup menjaga api tetap menyala. masih menungu untuk menyanyikan lagu yang sama
Nikmatilah saja kegundahan Ini, segala denyutnya yang merobek sepi. kelesuan ini jangan lekas Pergi. aku menyelami sampai lelah Hati.

Ini nih statusnya orang yang pinter ngomong Enggges:

– dancing in D’cloud
– is Fly me to the moon, Let me play among the stars. Let me see what spring is like on Jupiter and Mars. In other words, hold my hand!
– amazed with the word conscience (sumpahhhh gak ada hubungan ma partainya om wir :D).
– is exploring some new feelings and emotions. hehehe.
From this day on, i stop care, i woundn’t even give a shit about them.

Statusnya orang realistis:

– sepi di kantor, rame di dunia maya …. yo wes, ngeMPie aja (ngomongin MP di Pesbuk?? ridiculous ahh) ….. 😀
– maaaffff…..mau bersih-bersih fb

Status orang yang memanfaatkan Fesbuk secara efektif dan efisien, sangkil dan mangkus

– siapa mau ikut Dream Girls, audisi 26FEB di JEC Yogya …

Warga Sidodadi,Banaran,Byl,Septian dwi cahyani,bocah 6thn yg fungsi kdua kakinya tganggu krn keloid parah butuh uluran tangan…ms dpnnya msh pjg..

Mencoba memberikan pelajaran moral:
layat tetangga RT dulu trus kerja….krn saudara terdekat kita adalah tetangga dan teman.

– Status ibu rumah tangga sejati:

– mandiin anak

– masak sayur lodeh

– nyetrika baju

– mo jemput snak sekolah (hihihiiiii)

Kagak tau neh orang2 emang jetset, mau curhat ato ngapain:

– Living on the jetplane
– Menunggu departure

– Transit sambil nontoni wong ayu (kok ra enek ya???)

– Ngadhem di Puncak  sama anak-istri

– Abis mendarat di bandara langsung rapat. cape deeehhh..

Kalau ini status yang aneh, benar-benar sedang blank sepertinya
(terutama status yang cuma titik2)
– mengamati status2 di pesbuk. Oh, terpujilah fesbuk yang telah menjadi pemenuhan sesaat jiwa-jiwa yang “kurang penuh” (termasuk diriku lho yaaaa!!)

– ……………………

Awas ya Anda yang menjadi kontak saya…!! Ntar status Anda saya umumin dan saya analisis juga lho di EMPI baru tau rasa!! Kyaaaahahahaaa!!!!

9 komentar Februari 25, 2009

Bahasa birokrat itu… Uuuuuhhh!!!!!???

Aku makin gerah dengan media massa sekarang. Bukan karena apa-apa. Mungkin bagi sebagian orang ini hanya “masalah kecil”, namun bagiku ini sangat mendasar!!

Bahasa-bahasa gaya birokrat itu gara-garanya. Pilihan kata yang kaku dan tentu saja aneh untuk konsumsi berita bagi masyarakat pembaca, pendengar maupun penonton. Payahnya lagi, virus bahasa birokrat ini menyerang tak hanya media lokal, tapi juga media nasional yang bergengsi!!

Menjengkelkan sekali membaca kalimat yang dimulai dengan kata-kata seperti “Mengingat….”, “Dalam rangka….” atau “Seperti kita ketahui..” (sing mengetahui gek sapa?????) dan teman-temannya.

Atau kalimat yang di dalamnya mengandung unsur “….menyusul”, “………pasca-” yang pada biasanya juga sangat salah dalam penggunaannya. Misalnya “pasca”, mestinya disambung dengan kata benda. Tapi sering dipaksa bergandengan tangan dengan kata kerja!! Misalnya: “Gubernur hadir di Solo menyusul bencana banjir pasca-dilakukannya revitalisasi……” (hadoh hadoh ruwetnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Kasihan dikit pembaca duoooong mas wartawan dan mbak wartawati!!)

Lalu dalam berita kriminal, saat ini sering muncul kata “curat”, “curas” yang notabene bahasa dari dunia Mahoney dkk. Ya memang dalam dunia polisi, ada pembedaan antara pencurian biasa dan pencurian yang disertai dengan kekerasan. Tapi awam menyebut itu semua sebagai pencurian dan perampokan.

(Sabar buneeee sabar buneeee)

Ini belum menyangkut akurasi, kalimat tidak efektif, dan permasalahan “kecil namun mengganggu” lainnya, yang menunjukkan sang wartawan atau editornya kurang belajar, kurang gaul sehingga jadi kurang wawasan. Ujungnya, mereka memberikan informasi yang aneh bin ajaib kepada publik.

Saya pernah membaca berita dari konferensi pers di Solo, yang ditulis sang wartawan, lokasinya di “SMP Cokro.” Ini ajaib, karena di Solo tuh tidak ada SMP Cokro. Ada mungkin SMP Cokro, tapi di Klaten, dekat pemandian Cokro Tulung. Setelah saya usut, ternyata yang dimaksud wartawan itu adalah sekolah swasta bernama SMP Cokroaminoto!!

Trus pernah pula dalam sebuah media disebutkan “Jurusan Etno pada perguruan tinggi X”, yang kutahu itu pasti maksudnya untuk menyebutkan “Etnomusikologi” !! Haiiyyyah…. bedakan dong sebutan dalam obrolan sehari-hari dengan sebutan resmi!!

O, ya saya juga mangkel dengan media umum yang sok pintar dan kebarat-baratan, dengan menyebutkan kata-kata “tingkat lanjut” seperti “dekonstruksi, paradigma, diskursus” dalam kalimat biasa pada naskah berita biasa. Tentu saja ini tidak pada tempatnya, Bung!! Saya pun salut dengan sebuah harian yang mempopulerkan kata “pemakzulan” sebagai ganti “impeachment.”

Akhirnya saya benar-benar menghargai media yang bersahaja namun tetap elegan, dengan menjauhi sejauh- jauhnya apa yang telah saya “haramkan” di atas. pressconference

3 komentar Januari 23, 2009
Tag:

Jangan marah lagi, Mama…

Jangan marah lagi, Mama

jangan bentak aku lagi

Aku tak mau sekolah

bukan karena aku malas

atau aku tak tahu pentingnya sekolah

sungguh aku tahu semua itu


Seperti mama katakan

aku harus rajin sekolah

agar pintar dan

bisa menjadi seperti mama

punya pekerjaan bagus

jabatan yang keren

gaji banyak


Tapi maaf Mama,

aku tak berminat jadi seperti itu

bila itu memaksaku

sering meninggalkan anak-anakku

Jangan marah lagi Mama

aku bukan lelet

tapi lihatlah tanganku yang begitu kecil

dengan tas yang demikian besar

berisi bekal dan berbagai perlengkapan

tuntutan bersekolah di TK unggulan


Jangan bentak lagi aku Mama

aku tak mau minum susu

bukan karena susu tak enak

atau aku tak tahu manfaat susu

seperti kata Mama, susu baik untuk kesehatan

dan untuk tulangku, aku tahu itu


Sungguh aku sangat suka susu

tapi suara lantang Mama,

telah membuatku hilang selera


Sekali ini dengarkan kata hatiku Mama

aku tak ingin ke sekolah

karena aku tak mau ketika pulang,

alih-alih kudapati mama di depan pintu

kuharus hadapi rumah terkunci

membuat hatiku ngilu


Jangan marah lagi, Mama

sebab kemarahan demi kemarahan

hanya membuatku menumpuk dendam

yang butuh pelampiasan

sedang aku tak mau durhaka di hari kemudian


Jangan paksa aku sekolah hari ini, Mama

karena aku ingin bersama mama

satu hari ini saja


**Terinspirasi bikin puisi ini, setelah menyaksikan sehari2, anak tetangga selalu dibentak2 oleh orangtuanya sendiri…

“S****!! Cepetan jalannya, Mama bisa terlambaaaaaat!

S****!! Buruan minum susunya! Mau muntah? Muntahin sekalian anak nakaaall!!

S***!! Jangan leleeeeeeeeeeeeettttt!”

Gak tega ngeliatnya… hiks…

Memang mendidik anak tanpa marah itu tak gampang

Tapi bukan juga hal yang mustahil, kan?

10 komentar November 23, 2008
Tag: ,

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Juli 2017
S S R K J S M
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts